Indonesia hadir di Venice Biennale Architecture

0
235

Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tengah bersiap untuk mengikuti Venice Biennale Architecture (VBA) 2018 yang akan berlangsung mulai 26 Mei hingga 25 November 2018 di Giardini dan Arsenale dan di sekitar tempat lain di Venesia.

Presiden La Biennale di Venezia, Paolo Baratta, bersama dengan kurator Pameran Arsitektur Internasional ke-16, Yvonne Farrell dan Shelley McNamara pun telah merilis berita tersebut di website La Biennale.

Bagi dunia seni Indonesia ini adalah sebuah perubahan yang menjanjikan. Melihat respon positif dalam keterlibatan Indonesia di VBA 2014 lalu, Indonesia tentu akan memberikan yang terbaik untuk penyelenggaraan Venice Biennale Architecture 2018 nanti.

Bekraf bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia akan mewujudkan karya arsitektur dalam event tersebut dengan menunjuk Komisioner Venice Biennale Architecture 2018 yang terdiri dari Ricky Joseph Pesik (Wakil Kepala Bekraf) sebagai Ketua Komisioner dan Ahmad Djuhara (Ketua Ikatan Arsitek Indonesia) sebagai Anggota Komisioner.

“Tahun 2014 lalu keikutsertaan Arsitek Indonesia di ajang ini masih kurang terdengar, diharapkan dengan persiapan ini keikutsertaan Indonesia bisa lebih baik dan terdengar bagi masyarakat,” ujar Wakil Kepala Bekraf sekaligus Komisioner Venice Biennale Architecture 2018 Ricky Joseph Pesik.

Tahun 2014 lalu Indonesia terlibat dalam La Biennale di Venezia yang ke 14 dengan mempersembahkan karya berjudulCraftmanship: Material Consciousness karya Avianti Armand, Achmad D Tardiyana, Setiadi Sopandi, David Hutama dan Robin Hartanto. Karya mereka mewakili Indonesia yang dianggap menjawab tema Evolution of National Architecture for the Past 100 years. Karya para arsitek berbakat Indonesia tersebut bercerita tentang pengalaman Indonesia dalam membangun sesuatu selama seratus tahun terakhir.

Yvonne Farrell dan Shelley McNamara selaku kurator pameran arsitektur internasional La Biennale ke-16 telah memilih tema yangbertajuk Freespace. Beberapa makna dari Freespace mereka artikan sebagai Freespace mendorong untuk meninjau cara berpikir, cara baru untuk melihat dunia, menemukan solusi di mana arsitektur menyediakan kesejahteraan dan martabat setiap warga negara dari planet yang rapuh ini.

Ada pertukaran antara orang dan bangunan yang terjadi, meski tidak dimaksudkan atau dirancang, sehingga bangunan sendiri menemukan cara untuk berbagi dan berhubungan dengan orang dari waktu ke waktu, lama setelah arsitek meninggalkan tempat kejadian.

Arsitektur memiliki kehidupan yang aktif sekaligus pasif. Freespacemencakup kebebasan untuk membayangkan, ruang bebas waktu dan memori, masa lalu yang terdegradasi, sekarang dan masa depan bersama, dibangun di atas lapisan budaya yang diwariskan, menenun kuno dengan kontemporer. Freespace menggambarkan kemurahan hati semangat dan rasa kemanusiaan sebagai inti agenda arsitektur, dengan fokus pada kualitas ruang itu sendiri.

“Seperti halnya edisi Biennale Architettura sebelumnya, kami melanjutkan penyelidikan kami terhadap hubungan antara arsitektur dan masyarakat sipil. Perpecahan antara arsitektur dan masyarakat sipil, yang disebabkan oleh meningkatnya kesulitan dalam mengekspresikan kebutuhannya sendiri dan menemukan jawaban yang tepat, telah menyebabkan perkembangan perkotaan yang dramatis yang ciri utamanya adalah tidak adanya ruang publik yang ditandai, atau pertumbuhan wilayah lain yang didominasi oleh ketidakpedulian,” ujar Presiden La Biennale Paolo Baratta dalam rilisnya.

Ketiadaan arsitektur membuat dunia semakin miskin dan mengurangi tingkat kesejahteraan masyarakat, jika tidak dicapai dengan perkembangan ekonomi dan demografis. Untuk menemukan kembali arsitektur berarti memperbaharui keinginan kuat akan kualitas ruang tempat kita tinggal, yang merupakan bentuk kekayaan masyarakat yang perlu terus dilindungi, direnovasi dan diciptakan.