RSAI Gunakan Sarang Laba-Laba Demi Kenyamanan

0
2777
Ilustrasi Pondasi Ramah Gempa dengan metode Konstruksi Sarang Laba Laba

Rumah Sakit Al-Islam (RSAI) berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Bandung Jawa Barat menggunakan Konstruksi Sarang Laba-Laba untuk perluasan ruang rawat inap dan rawat jalan Gedung Ibnu Sina 2 demi memberikan kenyamanan kepada pasien.

“Kami menggunakan konstruksi sarang laba-laba karena tidak membutuhkan alat berat dan ramah lingkungan sehingga tidak mengganggu pasien,” kata Wakil Direktur RSAI Bandung, DR. H. Dadang Rukanta, SpOT, FICS, MKES saat dihubungi, Kamis.

Peresmian Gedung baru RSAI, Ibnu Sina 2 yang diresmikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher, dibangun di atas lahan tiga hektar, di dalamnya terdapat berbagai fasilitas, di antaranya ruang rawat inap VVIP sebanyak 28 tempat tidur, ruang rawat jalan terdiri dari enam poliklinik eksekutif, dan satu unit pelayanan kemoterapi terdiri dari delapan tempat tidur.

Dengan menerapkan konsep “green hospital”, RS yang bediri sejak tahun 1990 ini memilki ruang terbuka hijau 30 persen, serta akan dikembangan lagi fasilitas lainnya, seperti akan membangun gedung lima lantai untuk UGD, poliklinik, dan berbagai fasilitas lainnya.

Dadang menjelaskan, penggunaan Konstruksi Sarang Laba-Laba merupakan inisiatif Ketua 1 Yayasan Al-Islam, almarhum Ir. Sandi A. Siregar, M. Arch yang berkeinginan perluasan bangunan jangan sampai menganggu operasional RS Al-Islam.

Sandi melihat konstruksi sarang laba-laba akan mampu menunjang pembangunan Ibnu Sina 2 yang dirancang memiliki ketinggian empat lantai.

Dengan melihat kondisi tanah yang labil maka dipilih menggunakan konstruksi sarang laba-laba yang merupakan karya anak bangsa, kata Dadang menjelaskan.

Usulan ini, kata Dadang, langsung disetujui apalagi dari segi biayanya konstruksi sarang laba-laba yang termasuk dalam kelompok pondasi dangkal ini terbilang jauh lebih efisien dibandingkan menggunakan konstruksi lainnya.

Dadang mengatakan konstruksi menggunakan padat tenaga kerja disamping penggunaan bahan bangunannya tidak terlalu sulit, seluruhnya tersedia di kota Bandung.

Sedangkan Ketua Yayasan Al-Islam Prof. Hj. Tati S. Joesron, SE, MS mengatakan, untuk membangun rumah sakit manajemen sangat memperhatikan kuaiitas bangunan sesuai dengan standarisasi yang diterbitkan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Tati mengatakan, RSAI mengantongi dua sertifkat lagi selain dari KARS yakni sebagai rumah sakit Syariah dan rumah sakit Pendidikan. Seluruh sertifikasi akan dipertahankan untuk menjadikan RS Al-Islam unggul dan terpercaya.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada kesempatan tersebut mengatakan dengan ditingkatkan layanan RSAI sudah barang tentu akan mendukung layanan kesehatan di kota Bandung karena tidak mungkin mengandalkan rumah sakit pemerintah saja.

Tati lebih jauh mengatakan, pengembangan RSAI masih akan dilanjutkan sesuai dengan master planke depan yakni dengan membangun gedung lima lantai lagi untuk unit gawat darurat, poliklinik, dan perkantoran.

Konsultan teknik pengembangan RSAI, Dede Herdi mengatakan, pemilihan konstruksi laba-laba lebih berdasarkan hitungan efisensi, ternyata lebih murah untuk mengerjakan pondasi dangkal dibanding lainnya.

Kekuatan Konstruksi Sarang Laba-Laba juga tidak diragukan lagi, untuk bangunan empat sampai lima lantai termasuk daerah Bandung sangat dimungkinkan, kalau kondisi tanahnya labil harus diolah dulu sebelum konstruksi dipasang,” kata Dede.

Dede juga mengatakan pengunaan konstruksi ini selain lebih ramah lingkungan selain tidak menimbulkan suara berisik karena tidak menggunakan alat berat juga pembangunannya dapat lebih cepat.

Sumber: LKBN Antara