Tak Ada Dokumentasi Arsitektur Lokal, Bangunan Modern Tak Boleh Tinggalkan Akar Budaya

0
289
Desa Adat Wae Rebo Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: indonesia.travel

Salah satu persoalan arsitektur saat ini sejatinya ada pada pendidikan. Di Indonesia, arsitektur tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Namun, masalahnya, bidang akademis itu sendiri sering melupakan sejarah.

“Ketika kita semakin modern, semakin merasa jauh dari akarnya,” ujar pemerhati arsitektur Nusantara, Yori Antar Awal, saat Obrolan Heritage tentang Vernakular vs Kolonial, di Jakarta Design Center, Selasa (20/12/2016).

Ia mengatakan, dunia akademisi dan praktisi sering kali melupakan sejarah.

Padahal, kejadiannya sering berulang pada masa sekarang.

Yori mengaku sedih karena dulu, saat ia masih menjadi mahasiswa arsitektur, tidak ada buku yang membahas tentang aset Nusantara.

Pada saat lulus, ia pun berpikir akan menjadi arsitek modern karena semua materi pengajaran berasal dari Eropa.

“Pendidikan kita semua datang dari Eropa karena tertulis. Sedangkan arsitektur Nusantara adalah budaya lisan, enggak ada dokumentasi, enggak ada datanya,” kata Yori.

Untuk mengubah paradigma tersebut, ia membentuk Rumah Asuh yang programnya mengirim mahasiswa ke pedalaman untuk mencari arsitektur yang hampir punah.

Ia juga mencari donatur untuk membiayai program tersebut.

Pada perjalanannya, program tersebut menemukan sistem gotong royong yang sudah ada sejak lama.

“Jadi mahasiswa dikirim ke pelosok, misalnya ke Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur. Di sana mereka tinggal berbulan-bulan, mencari DNA arsitektur, dan membangun rumah adat kembali,” kata Yori.

Proses pembangunan ini pun direkam dan menjadi dokumentasi yang lebih baik daripada hanya sekadar foto.

Menurut Yori, rekaman ini menjadi data berharga karena biasanya antropolog lain mendokumentasikan berupa foto. (Kompas.com/Arimbi Ramadhiani)

Sumber: travel.tribunnews.com