Gempa Aceh, Saatnya Konstruksi Tahan Gempa Digunakan

0
669

Gempa 6,5 SR yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam, harusnya menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat, bahwa Indonesia terletak di daerah sangat rawan gempa. Untuk itu, tidak ada jalan lain, kecuali melakukan mitigasi, termasuk di antaranya membuat infrastruktur tahan gempa.

Demikian disampaikan pakar gempa bumi ITB, Profesor Masyhur Irsyam. “Penggunaan konstruksi tahan gempa sudah wajib dan harus memenuhi kaidah engineering, serta perlu dipertimbangkan adanya regulasi pemerintah,” kata Masyhur.

Mengenai kondisi Indonesia yang rawan gempa, menurut Masyhur, bisa diketahui dari peta gempa terbaru yang dibuat Tim Pemutakhiran Peta Bahaya Gempa Bumi Indonesia 2016 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Menurut Masyhur yang juga ketua tim, hingga saat ini masih banyak sumber gempa yang belum diketahui.

Ia menambahkan, gempa bumi tidak bisa dihindari dan diprediksi, termasuk waktu, lokasi, dan besaran gempa. Itulah sebabnya, mitigasi merupakan hal yang wajib dilakukan, termasuk membuat infrastruktur tahan gempa. Misalnya, membangun rumah kayu atau mempergunakan teknologi konstruksi sarang laba-laba yang dikenal sebagai konstruksi pondasi ramah gempa. “Itu (konstruksi sarang laba-laba) salah satunya. Selama pondasi dipersiapkan menerima gaya gempa, tentu oke,” ujarnya.

Kris Suyanto, Direktur Utama PT Katama Suryabumi sekaligus pemegang hak paten konstruksi sarang laba-laba, mengatakan, teknologi pondasi ramah gempa konstruksi sarang laba-laba (untuk bangunan) dan jaring laba-laba (untuk jalan dan landasan pesawat) memang bisa menjadi solusi untuk menghadapi gempa dan tanah ekstrem (kembang susut, lunak, gambut). Apalagi, konstruksi ini mendapat pengakuan rekor MURI dan beberapa penghargaan serta Upakarti sebagai sistem pondasi pertama dan satu-satunya di dunia yang terbukti telah menyelamatkan bangunan-bangunan yang didukungnya, pada gempa berkekuatan 9,3 SR dengan ratio keberhasilan hampir 100 persen.

Tentang keandalan konstruksi sarang laba-laba, menurut Kris, bisa dilihat ketika gempa bumi hebat terjadi di Aceh 2004, Padang 2007 dan 2009, serta gempa lain. Di pusat gempa di Pulau Simeuleu, misalnya, ketika semua gedung hancur, terdapat sekitar 15 bangunan gedung bertingkat yang masih berdiri kokoh, yaitu yang dibangun dengan konstruksi sarang laba-laba.

“Bupatinya sampai mendapat penghargaan internasional, karena dinilai mampu dan cerdas menyikapi daerahnya yang rawan gempa. Dia mengeluarkan kebijakan agar bangunan-bangunan aman dari risiko gempa. Karena memang dia belajar dari keberhasilan teknologi pondasi ramah gempa konstruksi sarang laba-laba di berbagai tempat,” kata Kris.

Di Banda Aceh juga cukup banyak. Sebut saja gedung SMK 3, Kejaksaan Negeri, PT Taspen, Dinas Perhubungan, dan masih banyak lagi. Gedung-gedung tersebut berdiri kokoh ketika gempa, padahal gedung-gedung sekitar rata dengan tanah.

Sementara di Padang, ada gedung Universitas Negeri Padang (UNP), Minang Plaza, dan Kantor DPRD. Sedangkan di Papua, ada gedung Plaza Hadi, Swiss Bell Hotel, dan Bank BPD Papua.

“Jadi, konstruksi sarang laba-laba sudah membuktikan. Tidak sekadar janji. Bahkan, kami bersedia menulis pernyataan bertanggung jawab jika terjadi kerusakan akibat gempa,” lanjut Kris.

Menurut Kris, sistem ini sangat kaku dan kokoh seperti perahu di laut. Jika ada gempa, dia hanya bergeser ke kanan dan ke kiri mengikuti. Jadi dia tidak melawan gempa, namun ramah terhadap gempa. Sistem ini sama seperti teknologi tahan gempa di Jepang, yang prinsipnya tidak melawan gempa atau lentur.

Hal ini berbeda dengan sistem konvensional misalkan tiang pancang, yang melawan gempa. Kalau tiang dan sambungannya lebih kuat dari gempa, bangunan akan bertahan. Sebaliknya kalau kalah kuat, maka akan sangat beresiko kadang sampai roboh. “Jadi kalau beladiri, kami ini filofosinya silat. Bukan karate yang kuat melawan kuat” kata dia.

Sumber: www.beritasatu.com