Arsitek Membekali Diri dan Berkolaborasi untuk Membangun Kembali dengan Lebih Baik

0
82

Sejumlah wilayah di Indonesia berulang kali dilanda bencana. Dalam rentang waktu yang terbilang singkat gempa mengguncang Tasikmalaya, Yogyakarta, Aceh, NTB, Toli-Toli dan Sulawesi Tengah. Dampak gempa tersebut tidak hanya merusak bangunan dan kerugian material, namun juga banyak menelan korban jiwa. Lalu bagaimana Arsitek memposisikan diri dalam membangun kota-kota berketahanan?

Hampir seluruh wilayah Indonesia dilewati jalur cincin api (ring of fire), kecuali Kalimantan. Ini merupakan jalur patahan dan gunung api yang melingkar di sepanjang Samudera Pasifik. Selain itu secara geologis, Indonesia terletak di jalur tektonik yang sangat aktif karena interaksi tiga lempeng mayor dan banyak lempeng minor. Akibatnya gempa bumi serta letusan gunung api adalah hal yang jamak terjadi di Tanah Air. Terutama Palu dan Donggala yang merupakan titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia yakni lempeng Indo-Asutralia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia.

Pada Rakernas IAI 2019 di Ternate, Maluku Utara, Ikatan Arsitek Indonesia menetapkan Palu, Sulawesi Tengah sebagai Tuan Rumah Rakernas IAI 2020, dengan tujuan utama memberikan dukungan kepada Rekan-Rekan di Palu yang sedang mulai bangkit kembali dan menata perikehidupannya pasca bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah. Namun akibat Pandemi Covid-19, yang mulai merebak pada awal tahun 2020, Rakernas IAI 2020 baru dapat diselenggarakan pada 24-27 Februari 2021. “Kami mengambil hikmah baiknya saja, diundurnya Rakernas IAI ini memberikan kami cukup waktu dan ruang untuk memberikan sedikit sumbangsih bagi Rekan-Rekan terdampak bencana di Majene-Mamuju, Sulawesi Barat.”, ungkap Taswin Bulu, IAI., selaku Ketua Ikatan Arsitek Sulawesi Tengah.

Terkait tema Rakernas IAI 2021 : Arsitektur, Kota dan Resiliensi, serta rangkaian acara pendukungnya, yang salah satunya adalah Webinar Manajemen Bencana bagi Arsitek, I Ketut Rana Wiarcha, IAI., AA., selaku Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia menjelaskan, “Pada Rakernas ini selain ingin membahas hal-hal yang bersifat internal organisasi, IAI juga ingin membicarakan hal-hal eksternal yang berkaitan dengan isuisu kebencanaan. Ada banyak sekali jenis bencana di negeri kita ini yang merupakan ‘supermarket bencana’ yang harus kita respon dari berbagai disiplin, khususnya Arsitektur. Ketika kita berprofesi sebagai Arsitek, kaidah-kaidah bangunan yang berketahanan dan berkelanjutan harus diperhatikan. Hal-hal itu harus melekat dalam kompetensi dasar kita sebagai Arsitek. Terutama untuk merespon bencana-bencana yang terjadi secara periodik di Tanah Air. Untuk itu, berbagai pembekalan bagi para anggota Ikatan Arsitek Indonesia dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan webinar tentang Kebencanaan ini.”

Gubernur Sulawesi Tengah, Drs. H. Longki Djanggola M.Si., melalui PJ Sekprov H. Mulyono SE., MM., menyampaikan melalui sambutannya pada acara Pembukaan Rakernas IAI, “Saya sangat berharap dalam forum ini kita dapat berbagi pengalaman menangani bencana, merefleksikan pengalaman kita bersama-sama, menarik berbagai pembelajaran yang pada akhirnya dapat menjadi bekal untuk mempercepat kesiap-siagaan operasi tanggap darurat maupun rehabilitasi dan rekonstruksi di Indonesia, khususnya di propinsi Sulawesi Tengah saat ini dan di masa mendatang.”

“Karya cipta tangan-tangan Arsitek yang humanis, berkualitas, nyaman dan terutama aman bencana bagi masyarakat. Disinilah peranan yang diharapkan masyarakat pada seorang Arsitek, yaitu mampu mengukur serta menentukan bangunan sebelum dibuat, baik itu rancangan ataupun ketahanannya terhadap bencana serta pemulihan infrastruktur pasca bencana. Sehingga tatkala terjadi kejadian ataupun bahkan bencana, seorang Arsitek harus mampu membangun, mengembalikan dengan lebih baik dari sebelumnya. Mari mempercepat menuju Indonesia Tangguh menghadapi bencana” lanjutnya.

Terkait Peran Arsitek dalam situasi pasca bencana, Ariko Andikabina, selaku Sekretaris Jenderal Ikatan Arsitek Indonesia menyampaikan, “Pada tahap tanggap darurat Arsitek dapat membantu dalam melakukan pemetaan serta melakukan perancangan berbagai fasilitas sementara yang diperlukan warga terdampak. Hal ini merupakan bagian dari Pengabdian Profesi Arsitek, bagaimana Profesi Arsitek bisa lekat dan dirasakan perannya secara langsung oleh masyarakat. Ini selaras dengan peraturan tentang Arsitek baik dari UU No.6/ 2017, serta UU No.11/ 2020 dan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai Peraturan pelaksananya. Dalam Peraturan pemerintah sebenarnya ada beberapa hal yang dikaitkan dengan Pengabdian Profesi Arsitek. Walaupun Pengabdian Profesi yang dimaksud dalam PP No.15/ 2021 lebih kepada Pengabdian Profesi terkait dengan bangunan sederhana, yaitu agar Arsitek dan Profesi Arsitek dapat menjangkau masyarakat luas.”

Membangun kota yang tangguh dan berkelanjutan adalah investasi bagi generasi selanjutnya. Selain harus dapat mendukung tujuan sosial-ekonominya, pembangunan sebuah kota yang paling mendasar harus dengan kesadaran penuh terhadap bentang alamnya. Dalam rangka mempercepat menuju Indonesia Tangguh dan Berkelanjutan, berbagai pendekatan struktural dan non-struktural perlu dilakukan. Hal ini selaras  dengan yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Ikatan Arsitek Indonesia, Ariko Andikabina. “Dalam konteks bencana, Peran Arsitek menjadi hal yang cukup sentral. Saat ini Arsitek menjadi salah satu tulang punggung dalam menanggulangi Bencana, terutama pada tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan pendekatan struktural yaitu penerapan kaidah-kaidah bangunan dan infrastruktur tahan gempa. Namun sebenarnya yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana Arsitek dapat berperan pada tahap pencegahannya. Bagaimana Arsitek dapat benar-benar berperan dalam Perencanaan Kota dan Tata Kota yang menjadi salah satu lingkup keahlian Arsitek sesuai UU Arsitek No.6/ 2017. Harusnya di tataran itu Arsitek dapat memberikan sumbangsih untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.”

“Pencatatan dan pemetaan bencana menjadi sangat penting sebagai salah satu pendekatan non-struktural yang mendasari Perencanaan Kota dan Tata Kota.” tambahnya.

Tidak semua hal tentang bencana berdampak buruk bagi Indonesia, apabila seluruh stake holder kota-kota kita mau membuka diri dan saling berkolaborasi. Bagaimana mengubah bencana menjadi berkah? Di wilayah jalur gunung api terbentuk zona-zona mineral, seperti emas, tembaga, perak, nikel dan juga kromit. Erupsi gunung api membawa unsur hara yang menyuburkan Tanah Air kita. Gunung api juga menyediakan energi panas bumi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Lempeng tektonik juga penyebab kekayaan gas dan minyak bumi kita. “Arsitek harus berasosiasi dengan berbagai pihak dan penentu kebijakan, agar dapat memberikan sumbangsih yang lebih optimal dalam membangun Indonesia Tangguh dan Berkelanjutan. Rakernas IAI 20#21 ini sebagai titik awal Ikatan Arsitek Indonesia menata perangkat organisasinya untuk dapat berkolaborasi lebih sistematis dengan banyak pihak, serta mempersiapkan Arsitek-Arsitek yang lebih professional dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa mendatang.”, ucap Ketua Umum IAI, I Ketut Rana Wiarcha sekaligus menutup perjumpaannya dengan Media.

Tentang Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) : IAI didirikan secara resmi pada tanggal 17 September 1959 di Bandung. Kini di usianya yang ke-61, IAI telah beranggotakan lebih dari 20.500 Arsitek yang terdaftar melalui 34 kepengurusan Provinsi, 1 kepengurusan perwakilan dan 4 kepengurusan wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan kepengurusan Provinsi termuda di Maluku yang dideklarasikan pada tanggal 19 Agustus 2017 lalu. IAI aktif dalam kegiatan internasional melalui keanggotaannya di ARCASIA (Architects Regional Council of Asia) sejak tahun 1972 dan di UIA (Union Internationale des Architectes) sejak tahun 1974, serta AAPH (Asean Association Planning and Housing) di mana IAI merupakan salah satu pendirinya. Di dalam negeri pun selain bermitra dengan pemerintah, IAI tetap aktif bergaul dengan asosiasi profesi lain, seperti Lembaga Pegembangan Jasa Konstruksi dan Forum Asosiasi Profesi Jasa Konstruksi.

Tentang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Arsitek Indonesia :  Rapat Kerja Nasional merupakan Rapat rutin yang dilakukan oleh Pengurus IAI Nasional bersama seluruh Pengurus IAI Provinsi dan Perwakilan setiap 1 (satu) tahun sekali, Bersama dengan perangkat Organisasi lainnya yaitu Majelis Kehormatan Nasional dan Majelis Organisasi, guna membahas kemajuan kerja Organisasi serta isu-isu lainnya seputar Keprofesian Arsitek.