Architectural Design Week 2021

0
498

Jakarta – Architectural Design Week merupakan kegiatan arsitektural tahunan terbesar Universitas Tarumanagara yang diadakan oleh IMARTA (Ikatan Mahasiswa Arsitektur Tarumanagara) dan SKETSA (Majalah Arsitektur Tarumanagara) sejak 2014 sebagai bentuk pembelajaran bagi mahasiswa serta pengenalan karya unik keahlian mahasiswa arsitektur Universitas Tarumanagara kepada publik luas. Architectural Design Week 2021 terdiri dari beberapa rangkaian acara meliputi webinar, workshop, architecture goes to school (AGTS), sayembara, ADW talk, serta puncak dari acara ini yaitu diadakannya pameran dan instalasi selama satu (1) minggu penuh melalui virtual exhibition dari tanggal 24 Juli – 31 Juli 2021. Untuk mengetahui keseruan acara kami dapat dilihat melalui instagram @architecturaldesignweek.id / ADW 2021.

Tahun ini, Architectural Design Week mengangkat tema besar yakni Healing Architecture, memunculkan judul ANSARA yang diambil dari kata ‘asa’ (berharap), ‘dhayana’ (refleksi), dan ‘prasadah’ (kedamaian). Healing architecture sendiri merupakan istilah yang menggambarkan konsep healing dan recovery penggunanya dengan arsitektur sebagai wadah yang berguna untuk mempercepat proses tersebut. Healing architecture ini memiliki 3 fokus utama yang terdiri dari people (manusia sebagai pusat arsitektur / human centered design), process (penyembuhan / pemulihan), dan place (wadah yaitu arsitektur sendiri).

ARCHITALK 0.1

Architalk 0.1 merupakan acara pembuka dari rangkaian acara seminar ADW 2021. Architalk 0.1 ADW 2021 mengangkat tema “Healing Architecture” dengan judul “Healing Architecture: Respond to the Mental Health Problems During and After the COVID-19 Pandemic”. Acara ini diselenggarakan melalui platform zoom meeting pada tanggal 29 Mei 2021pukul 14.00-16.00 WIB. Architalk 0.1 mengundang Mr. Yann Follain dari WY-TO dan Bapak Monty P. Satiadarma SPsi,MS/AT,MFCC,DCH,Dr., Psikolog sebagai pembicara serta Bapak Rio Sanjaya sebagai moderator.

Healing Architecture merupakan sebuah arsitektur yang berkaitan dengan penciptaan bangunan baru dan penataan ulang sebuah bangunan bertujuan membantu proses penyembuhan para penggunanya. Tujuan utama dari healing architecture adalah untuk terlibat dalam proses penyembuhan serta pemulihan diri yang dapat dicapai dengan menyelaraskan seluruh faktor yang membentuk kualitas dari sebuah ruangan.

Di era seperti sekarang, pasca terjadinya wabah virus corona yang mengawali pandemi COVID-19, sebagian besar orang bergumul dengan kehidupannya karena keadaan yang sangat buruk bagi mereka. Pandemi COVID-19 yang mengarah kepada resesi ekonomi mempunyai efek negatif terhadap kesehatan mental dari banyak orang dan telah menciptakan sebuah hambatan baru bagi orang-orangyang sudah menderita penyakit mental dan gangguan penggunaan narkotika. Akibatnya, banyak dari mereka menderita stress dan depresi yang tak kunjung berakhir.

Menurut pembicara pertama, yaitu Mr. Yann Follain, situasi sekarang dimana orang-orang terkurung di rumah itu tidak benar, seharusnya kita bersosialisasi dan bekerja bersama orang sekitar kita, namun kita tidak punya pilihan lain. Di Singapura, situasi sudah lebih kondusif, sehingga orang-orang bisa kembali bekerja ke kantor dan pelajar dapat belajar di gedung sekolah. Bagaimana cara kita menata ruangan dan lingkungan itu akan mempengaruhi situasi dan kondisi saat pandemi ini, sehingga hendaknya kita dapat mengatur sedemikian rupa agar orang-orang dapat bersosialisasi namun tetap
mencegah penularan COVID.

Menurut pembicara kedua, yaitu Bapak Monty P. Satiadarma SPsi,MS/AT,MFCC,DCH,Dr., Psikolog, masalah yang dialami dalam gaya hidup masyarakat khususnya pada masa pandemi adalah kemacetan yang difaktori oleh banyaknya penduduk. Peristiwa ini yang dapat meningkatkan penyebaran virus. Oleh karena itu, penerapan pembatasan sosial dilakukan yang menimbulkan masalah baru, yaitu stres. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak nyaman jika terisolasi dari lingkungannya. Hal yang diperhatikan adalah material bangunan, pemaduan dengan iklim, sumber energi, orientasi matahari, bentuk dan susunan ruang, unsur alam, dan arah mata angin. Dan hal yang perlu dipertimbangkan juga adalah material bangunan yang aman dan murah, pemaduan dengan iklim, sumber energi, orientasi matahari, bentuk dan susunan ruang, unsur alam, dan arah mata angin.

ARCHITALK 0.2

Architalk 0.2 merupakan acara kedua dari seminar yang mengangkat tema “Post – Pandemic Covid 19 : The Power of Biophilic Design for Human’s Healing Process” yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 26 Juni 2021 pukul 13.00-15.00 WIB melalui platform zoom. Acara ini mengundang Ariko Andikabina (Saia Architecture) dan Anton Siura (SIURA Studio) sebagai pembicara.

Pandemi Covid-19 mulai menyebar di Indonesia sejak bulan maret 2020, masyarakat urban harus melakukan kegiatan-kegiatan di dalam rumah untuk menghindari kerumunan massa. Hal ini menyebabkan mereka terhindar dari lingkungan alam dan sosial yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan alam sekitarnya karena keberadaan lingkungan alam ini secara langsung sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Penerapan healing architecture di lingkungan dan bangunan tinggal masyarakat dapat menjadi salah satu solusi agar mereka dapat merasakan lingkungan yang alami. Healing architecture ini sendiri bertujuan menciptakan bentuk dan lingkungan arsitektur yang mendukung kesembuhan pasien. Dalam menciptakan lingkungan arsitektur yang optimal demi kesembuhan pasien, terdapat tiga aspek yang perlu menjadi perhatian utama dalam desain yaitu people, process, dan place. Dengan menerapkan tiga aspek tersebut, desain biofilik dapat menjadi salah satu kunci penerapan dalam lingkungan sekitar
masyarakat urban.

Apakah desain biofilik dapat menjadi salah satu solusi? Bagaimana desain biofilik dapat diterapkan dalam bangunan tinggal?

Menurut pembicara pertama Ariko Andikabina, desain biofilik dapat mempengaruhi human healing. Manusia itu suka melihat hijau, ketika ada kesukaan dan melihat yang hijau, hormon-hormon dalam tubuhnya bekerja. Mungkin dia mempunyai mental issue akan terbantu. Apapun reaksinya ketika kita bahagia makan hormon yang baik akan keluar, dan yang terpenting atau utama dalam proses healing adalah memikirkan bagaimana aliran udara itu terjadi dalam sebuah ruangan. Sebagai contoh di dalam ruang kelas, kekhawatiran ada pada bagian ventilasi udara (sirkulasi udara secara alamiah) dimana
demi diterima oleh pasar pada kondisi saat ini, bangunan ber-AC menjadi hal yang wajib. Padahal, mungkin udara yang kita hirup sudah dihirup oleh orang lain dan itu menjadi resiko.

Menurut pembicara Anton Siura, desain biofilik dapat mempengaruhi manusia dari tingkat mental misalnya, seperti kita mengurung diri di kamar tanpa keluar rumah, akan berbeda rasanya dibandingkan jalan-jalan di taman. Proses healing tidak hanya untuk manusia, tetapi kita juga harus menyembuhkan planet kita, salah satu contohnya adalah serangga, melihat dokumentasi Netflix Breaking Boundaries: The Science Of Our Planet disebutkan serangga itu spesies yang paling penting dalam ekosistem bumi ini karena dia yang membantu ekosistem vegetasi. Di Inggris, ada jenis lebah tertentu yang sudah punah karena lahan disana diubah menjadi crops dan karena tidak ada lebah jenis tertentu ini, Inggris tidak bisa membuat crops tersebut sehingga para ilmuwan harus ke Swiss untuk
mencuri lebah ini. Hal ini kembali mengingatkan kita untuk sadar bahwa dalam mendesain Arsitektur faktor alam juga bukan menjadi penambah keindahan saja, justru menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mendesain, untuk menjadikan bumi kembali ke habitat awalnya, hijau dan bukan abu abu.

ARCHITALK 0.3

Architalk 0.3 menjadi acara seminar yang terakhir dari serangkaian acara seminar ADW 2021. Architalk 0.3 tahun ini bertema Healing Architecture: Improve Productivity and Happiness of Workers In The Of ice Environment yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 Juli 2021 pukul 14.00-16.00 melalui platform zoom, menghadirkan Realrich Sjarief (RAW Architecture) dan Ren Katili (Studio ArsitektropiS) sebagai pembicara.

Kantor merupakan tempat orang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan bersama. Kantor merupakan salah satu second place dimana pekerja kantor mempunyai target atau pencapaian yang harus dicapai dengan batas waktu tertentu sehingga membuat pekerja tersebut mengalami tekanan. Lingkungan kerja kantor dengan rutinitas kantor tersebut membuat para pekerja jenuh, bosan, bahkan stres. Maka dari itu, arsitektur berperan sebagai media untuk membantu para pekerja kantor agar bekerja secara maksimal dengan melepaskan faktor-faktor stres tersebut. Architalk 3 ini membahas bagaimana healing architecture berperan dalam memenuhi aspek fisik dan psikologis pekerja kantor agar dapat menghasilkan produktivitas bekerja yang baik. Suatu kondisi lingkungan kerja kantor dikatakan baik atau sesuai apabila manusia yang berada di dalamnya dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, dan nyaman. Maka dari itu, perlu adanya pendekatan berbeda dalam mendesain ulang kantor dari standar kantor pada umumnya menjadi kantor yang fun untuk pekerjanya dengan bantuan proses healing.

Menurut pembicara pertama Realrich Sjarief, pandemi covid-19 ini tentu banyak membawa
perubahan. Arsitektur dimungkinkan bisa memberi penyegaran/penyembuhan. Contohnya pendekatan desain bangunan Maggie’s Cancer Center karya Norman Foster di Inggris dimana ia berusaha memasukkan suasana garden place dalam sebuah komposisi bangunan yang memberikan stimulus alam sehingga membentuk sebuah healing environment. Poin penting dalam desainnya, yaitu Open air space, Sensory experience, Biophilia and healing gardens, Natural daylight & Air circulation. Lalu contoh pendekatan desain lainnya, yaitu Paimio Sanatorium by Alvar Aalto menggabungkan program ruang menjadi hal yang sangat penting dimana yang awalnya ruangnya singular tidak membutuhkan cahaya matahari menjadi terbuka (open space). Menurut Rich, terdapat 8 kriteria/prioritas sebuah office saat pandemi ini, yaitu 1) Social distancing; 2) Clean environment; 3) Clean and healthy body and mind; 4) With open plan, More air, More ventilation, and easier to clean;
5) Personal + public space; 6) Safer workflow in office layout; 7) Flexible work from office and from home; 7) Outdoor space + natural air. Terdapat tiga hal yang bisa diambil dari situasi pandemi saat ini bahwa arsitektur dapat memberikan Taksu (keutuhan yang maha dahsyat bagi kualitas hidup manusia menikmati arsitektur sembari bertahan dan beraktifitas di dalam pandemi maupun setelah pandemi). Kualitas hidup perlu menjadi kesadaran sehingga menjadi standarisasi kualitas hidup yang baru.

Menurut pembicara kedua Ren Katili, hanya 15% pekerja global yang bahagia dengan pekerjaannya dan selebihnya menganggap pekerjaan adalah kewajiban. Bagi orang yang mencintai dan memiliki passion dalam pekerjaanny,a produktivitas akan melonjak hingga 12%-20% dan mencapai 37% penjualan. Ada beberapa hal yang dapat meningkatkan kebahagiaan dalam pekerjaan kita yaitu tanaman di tempat kerja mendapat skor paling tinggi dalam studi soal kebahagiaan karyawan (sesuatu yang disebut biophilia, kecenderungan yang terhubung dengan genetik terhadap alam). Selain karena
estetika, tanaman juga berfungsi sebagai pelepas oksigen, penyerap karbondioksida, mengatur kelembapan, dan membersihkan racun yang ada. Menciptakan ruang yang tenang, membuat office menjadi sistem open plan. Menciptakan tempat kerja yang personal yang menawarkan rasa kontrol yang mengatasi kurangnya privacy dan memprioritaskan cahaya alami. Desain ergonomi, karena postur tubuh yang salah berkepanjangan menyebabkan masalah fisik dan kenyamanan saat bekerja
memicu kurangnya produktivitas. Desain kantor ergonomis proaktif dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan tim yang lebih besar dari fasilitas yang diberikan oleh kantor tersebut. Sebagai contoh desain ergonomi proaktif yang dapat mendukung karyawan adalah kursi ergonomis, meja berdiri, dan fasilitas olahraga. Menyediakan fasilitas kantin atau cafe secara gratis, kantor yang menyediakan makanan dan minuman bergizi dapat memaksimalkan produktivitas kinerja karyawan, hal ini dapat mengurangi biaya cuti sakit yang ditanggung perusahaan.

WORKSHOP

Workshop ADW tahun ini bertema Recaka : Public Space for Healing Common Stress. Workshop diselenggarakan pada Jumat, 25 Juni – Rabu, 7 Juli 2021 melalui aplikasi daring/online berupa Zoom Meeting. Workshop ADW tahun ini menghadirkan total 7 Pembicara diantaranya, Maria Veronica, Budi Pradono, Dian Siddya, Antony liu, Grace Eugenia Sameve, Andy Rahman, dan Andra Matin. Workshop ditutup dengan dilakukannya penjurian terbuka oleh 2 juri yaitu Dian Siddya seorang akademisi UNTAR, dan Andy Rahman.

Recaka sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya hembusan nafas. Recaka adalah gagasan yang dibuat untuk menciptakan suatu ruang bernafas bagi pengguna sehingga mampu meredakan rasa stres yang dialaminya. Masyarakat kota memiliki beraneka ragam aktivitas yang tidak terlepas dari masalah ekonomi, sosial, hingga peristiwa – peristiwa yang tidak terbayangkan. Salah satu akibat dari masalah tersebut adalah stres. Seseorang yang mengalami stres sementara, seringkali membutuhkan waktu dan ruang untuk meredakan kondisi tersebut. Hal ini dapat terjadi karena adanya keterkaitan yang erat antara ruang dan kesehatan psikologis manusia. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan penerapan healing architecture dalam sebuah sarana yang berperan sebagai ruang hiburan maupun ruang untuk meminimalisir stres.

Pembicara pertama, Maria Veronica membahas mengenai dasar sebuah healing environment dan healing architecture dalam sebuah ruang publik untuk meredakan stress. Healing environment yang dikemukakan oleh Terri Zborowsky memiliki 3 konsep yaitu, people (perancang ; pengguna), process, dan place (arsitektur sebagai ruang). Sedangkan healing architecture merupakan sebuah konsep healing dan recovery baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan yang melibatkan arsitektur untuk membantu mempercepat prosesnya dan mendapatkan hasil yang lebih efektif. Pembicara kedua, Budi Pradono membahas bagaimana cara untuk membentuk suatu bangunan arsitektur melalui diagram dan programming. Diagram dan programming menjadi satu mediator antara masa lalu dan masa depan yang juga merupakan sebuah alat untuk menerjemahkan arsitektur. Diagram berorientasi pada proses dengan tahapan penggunaannya supaya alat itu dapat bekerja sesuai dengan kegunaannya sedangkan program berorientasi pada proses rancangan atau proses dari tindakan untuk memperbaiki fungsi aktivitas manusia, sehingga dengan mengulang program dapat menghasilkan suatu arsitektur yang baru. Hal – hal yang harus dilakukan ketika mendesain sebuah bangunan adalah dengan melakukan investigasi program dan kebutuhan ruang yang akhirnya akan menjadi tools untuk menghasilkan suatu arsitektur. Dari program tersebut dapat dibuat 3D nya dan dikategorikan yang akan menghasilkan suatu bangunan.

Pembicara ketiga (Study Tour), Dian Siddya memberikan penjelasan mengenai contoh – contoh output design khususnya public space yang ada di dunia yaitu Tainan Spring (Taiwan), Enabling Village (Singapore), Taman Film dan Cidendo Park (Bandung). Bagaimana tempat tersebut dapat digunakan sebagai pelepasan stress di tengah kota dan aspek apa saja yang ada disana untuk memenuhi kebutuhan user khususnya usia produktif. Pembicara keempat, Antony Liu membahas mengenai poin-poin penting apa saja yang harus diperhatikan untuk menggabungkan mood and space for common stress. Penggabungan tersebut dilakukan secara mengalir dan semakin lama akan membentuk suatu vanishing architecture. Membahas dimulai dari nature, human, context, space dan architecture. Dari proyek-proyeknya, Antony Liu membahas satu per satu, yaitu bagaimana usaha dari existing site merangkul alam memegang poin terpenting dalam menggabung mood and space, kemudian penempatan pola-pola program yang cocok dan tepat, bagaimana bentuk-bentuk organik menyambut alam, pemilihan bahan bangunan dan lapisan yang sesuai, dan tidak kalah penting juga bagaimana pengaturan gradasi pencahayaan dan uap dari pintu utama. 

Pembicara kelima, Grace Eugenia Sameve membahas mengenai bagaimana menciptakan ruang publik dalam healing architecture berdasarkan perspektif manusia. Memberikan penjelasan mengenai stressor dan kebutuhan sensori pada masyarakat berusia produktif yang berbeda beda. Pembahasan ini menunjukan bahwa keadaan dan kenyamanan suatu ruang dapat mempengaruhi perasaan penggunanya. Pembicara keenam, Andy Rahman menurut beliau pengertian yang tepat untuk “biophilic design“, yakni “biophilic design” menekankan hubungan antara desain, alam dan kesehatan dalam upaya mengurangi stres, meningkatkan kualitas hidup, serta mempercepat penyembuhan. Pemahaman ini sudah diterapkan sejak arsitektur nusantara, dimana terasa jelas dialog alam dengan tempat tinggal. Prinsip biophilic design menurut beliau yakni memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi alami, dan menyisakan ruang terbuka hijau. Manusia hidup tidak lepas dari alam maka arsitektur yang baik, tidak berupaya merusak alam namun hidup berdampingan. Suasana yang muncul akan berbeda ketika sebuah tempat tinggal memiliki unsur biophilic didalamnya dibanding dengan apartemen yang tertutup. Selain itu hal ini merespon baik keadaan pandemi di masa sekarang. 

Pembicara ketujuh, Andra Matin ingin memfokuskan adanya hubungan interaktif antara manusia dan lingkungan arsitektur yang menyehatkan. Adanya permasalahan di kota, dimana visual kota yang sudah tidak nyaman, sangat sibuk, berpolusi, dan kebisingan yang muncul dari segala arah.

Pemilihan lokasi yang cukup baik bagi seseorang untuk menenangkan pikiran dari permasalahan kota. Seperti elemen air yang mengelilingi bangunan, dipadukan dengan elemen hijau menjadi magnet kuat dan membuat suatu komposisi untuk visualisasi bangunan. Penerapan warna calming dan netral, digabung dengan warna hijau dari pohon” diluar dan tidak memberikan suasana yang terlalu bergairah. Selain healing secara psikologis, desain bangunan juga harus bisa menyehatkan secara fisik, lebih memaksimalkan bukaan dan ruang teduh, maintenance yang baik dan mudah dibersihkan, desain juga bisa berupa terapi yang melatih motorik pengguna, dan membuatnya tidak malas untuk bergerak. Penggunaan material inspirasi dari lingkungan setempat, sehingga bangunan tetap menyatu dengan alam, dan tidak mengubah atmosfer lingkungannya. Pengalaman spasial dari sirkulasi yang naik-turun, pandangan jauh-dekat, ber-sequence seperti memasuki dimensi baru. Menurut Andra, desain bangunan yang lebih simpel, untuk healing tetapi tetap tidak melupakan nilai estetika. 

ARCHITECTURE GOES TO SCHOOL (AGTS) 

Architecture Goes to School merupakan program tahunan yang disediakan oleh ADW bagi para siswa SMA khususnya yang memiliki ketertarikan untuk masuk ke dalam bidang arsitektur. Pada tahun ini, AGTS membawakan 2 buah acara yaitu talkshow dan maquette workshop. 

Talkshow

Talkshow berjudul “The Architect’s Eye” merupakan acara baru yang dihadirkan oleh AGTS tahun ini, diselenggarakan pada hari Sabtu, 19 Juni 2021. Judul “The Architect’s Eye” sendiri diambil berdasarkan esensi Talkshow ini yang ingin membagikan pengalaman kehidupan berarsitektur dari kacamata seorang yang sudah menjadi arsitek. Talkshow ini menargetkan siswa-siswi SMA yang tertarik dengan jurusan arsitektur, namun juga terbuka untuk umum. Talkshow ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para peserta khususnya seputar kehidupan dalam arsitektur baik pada tahap persiapan memasuki perguruan tinggi, tahap perkuliahan, dan saat terjun ke dalam dunia kerja. Talkshow ini mengundang Jefri Angkasa dan Indri Kho, selaku founder dari biro Angkasa Architects sebagai narasumber. Harapannya adalah supaya Talkshow ini dapat membuka mata para peserta lewat pengalaman yang dibagikan oleh narasumber. 

Di awal acara, panitia menayangkan video singkat dari tim Angkasa Architects berisi tentang kegiatan seorang arsitek dan perkenalan biro. Kemudian acara langsung dilanjutkan dengan sesi tanya jawab peserta dengan narasumber. Sebagai pemancing, moderator mengajukan beberapa pertanyaan kepada narasumber untuk membuka topik dan diskusi. Topik yang ditanyakan peserta pada Talkshow ini beragam mulai dari persiapan memasuki jurusan arsitektur yang berasal dari peserta tingkat SMA, sampai kehidupan kerja yang ditanyakan oleh beberapa peserta mahasiswa. 

Secara keseluruhan, Pak Jefri dan Bu Indri terus mengingatkan bahwa menjadi seorang arsitek yang baik bukanlah langkah yang mudah. Banyak perjuangan yang harus dilewati mulai dari perkuliahan yang padat sampai persaingan di dunia kerja yang begitu banyak tantangan, seperti pengalaman Pak Jefri dan Bu Indri yang berjuang membangun biro Angkasa Architects dari awal sampai sekarang di daerah yang masih minim sekali pengetahuan terhadap kebutuhan jasa arsitek. Di akhir acara, Pak Jefri dan Bu Indri juga mengingatkan para peserta untuk terus memajukan arsitektur Indonesia dengan kembali ke daerah masing-masing dan menciptakan arsitektur yang baik dan bertanggung jawab di seluruh daerah Indonesia.

Maquette Workshop

Maquette Workshop merupakan acara tahunan yang dibawakan oleh AGTS, diselenggarakan secara online pada hari Sabtu, tanggal 10 Juli 2021 via Zoom. Workshop ini bertujuan untuk memberikan pengalaman bagi para siswa SMA dalam membuat maket sekaligus memperkenalkan mereka kepada cara berpikir konseptual dalam arsitektur. Maquette workshop pada tahun ini mengangkat judul ‘Tentrem’ dengan tema utama yaitu Harmonizing Space

Sebelum kegiatan workshop dimulai, para peserta terlebih dahulu diberikan pemaparan materi berupa pengenalan dasar terhadap arsitektur yang dibawakan oleh pembicara yaitu Rio Sanjaya, S.Ars, selaku dosen tidak tetap dalam program studi arsitektur di Universitas Tarumanagara. Secara umum, arsitektur memiliki pengertian yaitu sebuah spektrum perancangan lingkungan binaan untuk kehidupan dan aktivitas manusia. Selain itu, arsitektur juga memiliki pengertian secara khusus, yaitu perancangan lingkungan binaan yang memenuhi 5 syarat, yaitu manusia (human), tapak (site), selubung (envelope), struktur (structure), dan aktivitas (activity). Pak Rio Sanjaya mengatakan bahwa arsitektur memiliki pengertian yang luas dan tidak hanya selalu berbicara tentang bangunan. Karena arsitektur itu sendiri sebenarnya merupakan suatu pola pikir dengan konsep dan alasan khusus dibaliknya. Beliau juga menyebutkan jika tidak semua bagunan dapat disebut sebagai arsitektur. Adakalanya dimana sebuah bangunan tidak memiliki makna arsitekturnya, misalnya sebuah rumah sederhana yang dibangun oleh perusahaan developer. Arsitektur yang baik tidak hanya berbicara tentang keindahan, melainkan juga mementingkan aspek fungsional yang menjadi alasan dasar mengapa sebuah desain tersebut diciptakan. Suatu desain yang indah dan menarik tidak dapat disebut sebagai arsitektur yang baik jika kebutuhan dan kenyamanan penggunanya sendiri tidak mampu dipenuhi. Selain itu, disebutkan juga bahwa arsitektur itu sendiri dapat memberikan dampak healing bagi mental penggunanya. Yaitu ketika bangunan / suatu karya dapat membuat penggunanya merasa bahagia dan merasakan suatu suasana yang berbeda. Ditambah lagi, suasana healing dapat dicapai bukan karena adanya suatu elemen tertentu, melainkan karena adanya komposisi dari berbagai elemen dari ruang yang menciptakan suatu keselarasan dan memberi dampak terhadap perasaan sang pengguna. 

SAYEMBARA

Sayembara Architectural Design Week 2021 : “Loka Saras” merupakan acara kompetisi desain arsitektural yang mengambil tema healing architecture. Pendaftaran sayembara dibuka dari tanggal 1 Mei 2021 sampai 25 Juni 2021. Pengumpulan terakhir karya peserta jatuh pada tanggal 27 Juni 2021, yang akan dilanjutkan dengan penjurian tertutup pada tanggal 3 Juli 2021 dan penjurian terbuka pada tanggal 10 Juli 2021. Penjurian dilakukan oleh para juri yang diundang untuk menilai karya pada Sayembara Loka Saras kali ini, yaitu Bapak Yu Sing dari Studio Akanoma, Bapak Andy Rahman dari Andyrahman Architect, dan Ibu Theresia Budi Jayanti selaku Akademisi UNTAR. 

Banyak hal yang dapat memberikan tekanan kepada manusia, dimulai dari aktivitas dan permasalahan dengan skala intensitas yang beragam. Beberapa contohnya adalah belajar, bekerja, pertikaian, pengucilan dan lain-lain. Tekanan yang dialami oleh manusia dapat menimbulkan pikiran negatif apabila tidak ditangani dengan baik. Menurut dr. Rizal Fadli, ketika pikiran dipenuhi oleh hal-hal yang negatif, lambat laun itu akan memunculkan stres yang akhirnya dapat mengacaukan apa yang sedang dijalani. Stres pada seseorang akan otomatis mengubah cara kerja sistem imunnya, yang dapat membuat tubuh menjadi lemas, mudah sakit, dan kurang bergairah. Berdasarkan data dari The American Institute of Stress, 77% orang yang mengalami stres dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya dan 73% orang yang mengalami stres dapat mempengaruhi kesehatan mentalnya, yang apabila tidak ditangani dengan baik, dapat memicu seseorang untuk bunuh diri. Data kasus tersebut membuat stress menjadi hal yang tidak bisa dianggap remeh. Indonesia, khususnya di daerah yang

pada saat ini sedang mengalami pertumbuhan dan perubahan, tidak luput menghadapi permasalahan stres yang kian meningkat. 

Istilah healing architecture dicetuskan sebagai arsitektur yang berperan mewadahi dan dapat mendukung healing dan/atau recovery dari penggunanya. Dalam konteks ini, healing architecture berperan dalam menangani stres penggunanya. Oleh karena itu, penggunaan elemen-elemen arsitektural serta konsep dan tujuan healing architecture tercipta untuk membantu penggunanya dalam proses healing dan/atau recovery

ADW TALK 1 

ADW Talk merupakan acara baru pada tahun 2021. ADW Talk 1 menjadi acara pembuka dan paling awal dari serangkaian acara ADW 2021 dan bertema Suitable Surroundings to Increase Mindfulness yang diselenggarakan pada hari Jumat, 21 Mei 2021 melalui platform IG Live. Pada ADW Talk 1 menghadirkan Tara de Thouars (Clinical Psychologist) sebagai Pembicara, dan Agnatasya Listianti (Akademisi UNTAR) sebagai Moderator. 

Lingkungan fisik bisa menjadi suatu solusi masalah kesejahteraan mental karena hal itu bisa menjadi faktor yang mempengaruhi keadaan emosional seseorang yang berada di dalamnya. Arsitektur bisa menjadi salah satu solusi untuk menciptakan keadaan mental yang baik pada seseorang melalui pengalaman dirinya untuk berefleksi. Arsitektur yang berefleksi bukan hanya memenuhi kebutuhan seseorang untuk berefleksi, namun juga menciptakan atribut fisik yang menghasilkan lingkungan yang ideal untuk berada di dalamnya. Pembahasan akan diarahkan mengenai penciptaan ruang atau lingkungan fisik yang baik dalam mendorong mindfulness seseorang. Maka dari itu ADW Talk 1 membahas keterkaitan lingkungan di sekitar kita sebagai elemen arsitektur dan mindfulness itu sendiri. 

Menurut Tara de Thouars, mindfulness adalah teknik dan praktek yang bertujuan untuk membawa pikiran kita ke alam sadar (present) dan memperhatikan kondisi emosi tanpa penilaian apapun sehingga membuat diri kita lebih tenang dan peaceful. Sebuah mindfulness ini penting untuk diri kita sendiri karena mindfulness adalah sebuah remote control yang mengatur dan mempengaruhi diri kita dan lingkungan sekitar kita. Hubungan antara arsitektur, self-compassion dan mindfulness dapat terjadi secara tidak langsung. Dalam praktek self-compassion dan mindfulness, arsitektur juga berpengaruh besar terutama bagi orang yang sedang belajar untuk menerapkan dan mewujudkan self-compassion dan mindfulness. Contohnya seperti penggunaan atribut fisik, pengaturan suasana, dan warna pada sebuah ruangan. 

ADW TALK 2 

ADW Talk 2 menjadi acara terakhir dan menjadi acara penutup dari rangkaian acara ADW 2021 yang bertema Bringing Nature Inside: Increase your Mental Wellbeing. ADW Talk 2 diselenggarakan pada hari Rabu, 28 Juli 2021 melalui platform ZOOM yang di sambungkan ke Live di platform Youtube. Pada ADW Talk 2 menghadirkan Sigit Kusumawijaya (Architect & Urban Designer, Co-Inisiator Indonesia Berkebun) dan Team Kebun Kumara yang di wakili oleh Dholi Arham (Landscape Designer) sebagai Pembicara, dan Michelle Clara sebagai Moderator.

Bangunan Biophilic menggabungkan hal-hal seperti pencahayaan dan ventilasi alami, fitur lanskap alam, dan elemen lain untuk menciptakan lingkungan binaan yang lebih produktif dan sehat bagi manusia. Pengenalan Biophilic Design ke bangunan memberi penggunanya cara untuk mengurangi dan melepaskan stress mereka, menciptakan lingkungan yang lebih sehat di mana orang lebih senang berada di dalamnya. Pembahasan lebih dalam diarahkan untuk menjawab pertanyaan ‘bagaimana kita bisa menciptakan ruang yang lebih nyaman dengan pendekatan biophilic?’

Menurut Dholi Arham, ide dasar dari sebuah pendekatan biophilic adalah mencintai kehidupan dan alam. Konsep dasar biophilic design adalah bagaimana cara kita melihat alam bekerja, dan bagaimana kita mempelajari konsep itu sendiri. Hal dasar yang bisa dilakukan adalah mulai belajar untuk mencintai alam dan kembali mengkoneksikan diri ke alam. Terdapat banyak cara untuk membangun koneksi dengan alam, salah satunya adalah berkebun. Secara tidak langsung, dengan berkebun dapat belajar banyak hal seperti mendapatkan edukasi mengenai tanaman hias atau edible landscaping, begitu juga secara alami dapat melegakan stress. 

Menurut Sigit Kusumawijaya, untuk memulai menanam di rumah tidaklah mudah karena banyak hal yang harus dipertimbangkan. Namun adanya istilah FOMO (Fear of Missing Out) yang merupakan suatu hal yang bisa memicu orang untuk mulai berkebun (sesederhananya di rumah) dan pada akhirnya dapat terus berdampak panjang dan positif ke kondisi psikologis (stress) dan juga lifestyle untuk anggota-anggota yang berada di rumah. Warna-warna hijau dapat lebih menenangkan, pada saat berkebun juga dapat membuat diri lebih tenang. Akan adanya balance antara kesehatan mental dan juga fisik pada saat berkebun. 

VIRTUAL EXHIBITION

Architectural Design Week 2021 melaksanakan pameran virtual pada tanggal 24 – 31 Juli 2021 dengan tujuan untuk menampilkan berbagai karya arsitektur dari kontributor dalam maupun luar negeri. Karya-karya ini merupakan kumpulan karya dari mahasiswa arsitektur Universitas Tarumanagara maupun arsitek profesional. 

Tema yang diangkat adalah “Healing Architecture: Biophilic Design”. Healing Architecture adalah salah satu pendekatan desain arsitektural yang dapat dimanfaatkan untuk menginisiasi atau membantu proses pemulihan penggunanya, yang dalam konteks ini adalah penduduk kota dari stres urban. Biophilic Design disini sendiri merupakan sebuah metode perancangan yang bertujuan untuk kita kembali mengutamakan unsur alam di perkotaan yang kian menipis, dan menjadi faktor utama dari stres urban yang kita rasakan.