Jembatan Lemah Ireng Jadi Perhatian ASEAN

0
1205
Ilustrasi Jalan Tol. Foto: binamarga.pu.go.id

Jembatan Lemah Ireng di Jalan Tol Semarang-Bawen yang pembangunannya dengan sistem balancede cantilever menjadi perhatian para peserta Roundtable Meeting negara-negara anggota ASEAN, di Hotel Patrajasa Semarang, Rabu (1/2) malam. Keberhasilan pembangunan jembatan yang merupakan karya para ahli teknik Indonesia juga mendapat pujian dari para peserta.

Bahkan, banyak di antaranya yang tertarik dan akan melaksanakan pembangunan jembatan seperti Jembatan Lemah Ireng. Sehari sebelumnya (31/1), para peserta menggelar pertemuan di Hotel Gumaya Semarang dan city tour ke berbagai obyek wisata di Kota Semarang.

Ketua Tim Delegasi Indonesia Yimmy Siswanto Juwana menjelaskan, setiap negara anggota ASEAN mengirimkan delegasi antara 2-10 orang yang mempunyai sertifikat setara ASEAN untuk bidang engineering (ASEAN Chartered Professional Engineer/ACPE) dan bidang arsitek yaitu ASEAN Architect (AA). Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi Jateng Danang Atmodjo menyambut baik penempatan kegiatan pertemuan delegasi 10 negara ASEAN di Semarang. Melalui pertemuan tersebut, kata dia, bangsa Indonesia dapat menunjukkan kemampuannya dan tidak kalah dengan kemampuan bangsa lain, khususnya di bidang teknik.

Ia menunjukkan, pembangunan Jembatan Lemah Ireng di Jalan Tol Semarang-Bawen yang mulai dari perencanaan sampai pengerjaannya merupakan hasil karya anak bangsa dan baru satu-satunya di Indonesia, yakni di Semarang. ‘’Mudah-mudahan dengan diselenggarakan pertemuan tersebut di Semarang akan banyak membawa kenangan tersendiri bagi peserta, mengingat mereka juga diajak meninjau beberapa tempat wisata antara lain Waduk Jatibarang, Kota Lama dan Lawang Sewu,’’tuturnya.

Izin Berbelit

Direktur Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi Ditjen Bina Kompetensi Kementerian PUPR Masrianto MT menilai, pertemuan di Semarang tersebut sangat luar biasa.

Pasalnya, dari pertemuan yang diselenggarakan secara rutin tiap tahun itu akan terjadi akselerasi mobiltas di antara negara-negara anggota ASEAN, terkait dengan tenaga ahli profesi engineering (ACPE) dan arsitek (AA). Adapun Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) Ruslan Rivai menyatakan Roundtable Meeting diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan di antara negara anggota ASEAN, agar dalam penerimaan tenaga kerja konstruksi dapat disamakan standarnya, ‘’Tidak perlu banyak aturan yang berbelit. Mudah mencari pekerjaan. Tidak lama memperoleh izin kerja dan sebagainya. Harus diakui sampai sekarang di Indonesia pengurusan izinnya masih cukup berbelit,’’ ucapnya.

Dikatakan, mengenai jumlah tenaga engineering dan arsitek di Indonesia yang sudah mendapat sertifikat setara ASEAN yakni sertifikat ACPE ada 811 orang dan arsitek AA119 orang. Jumlah tersebut paling banyak di antara 10 negara anggota ASEAN.

Sumber: suaramerdeka